Senin, 11 Mei 2026

Insiden Dogiyai

Kapolsek Kamuu Minta Maaf Atas Dugaan Ancaman Oknum Polisi Terhadap Kadistrik dan Wartawan

Setelah dihalangi, Markus memilih kembali ke kantor distrik untuk berkoordinasi dengan jajarannya soal situasi.

Tayang:
Penulis: Melkianus Dogopia | Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Kapolsek Kamuu Minta Maaf Atas Dugaan Ancaman Oknum Polisi Terhadap Kadistrik dan Wartawan
TribunPapuaTengah.com/Istimewa
DOGIYAI BERDARAH - Tampak korban Sipi Tibakoto (18 tahun), terdapat luka tembak di bagian kepala mengakibatkan korban meninggal dunia. Yulita Pigai (60 tahun), terdapat luka tembak di bagian betis. Dan, Martinus Yobee (19 tahun), mengalami luka tembak di bagian perut, Selasa (31/3/2026), pagi, sekitar pukul 10.00 WIT, di pusat kota Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah./Istimewa 
Ringkasan Berita:
  • Kapolsek Kamuu, Iptu Yusuf Habel Apiem, meminta maaf atas tindakan tidak profesional oknum polisi yang menghadang dan mengancam Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, serta seorang wartawan di Dogiyai.
  • Insiden terjadi saat keduanya hendak bernegosiasi guna meredakan ketegangan massa pada Selasa (31/3/2026). 
  • Kapolsek menegaskan akan melaporkan oknum tersebut demi menjaga kondusivitas wilayah.

 

Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Melky Dogopia

TRIBUNPAUATENGAH.COM, DOGIYAI - Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, mengaku diinterogasi dan dihalangi oleh oknum polisi saat berupaya mendatangi tempat ditemukannya jenazah anggota polisi JE.

Kejadian itu berlangsung di depan GKI Ebenhaezer, Jalan Trans Papua Km.200, Moanemani, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Selasa (31/3/2026) siang.
 
Kepada TribunPapuaTengah.com, Markus menceritakan kronologinya.

Saat itu dirinya baru saja mengikuti kegiatan Musrenbang Otonomi Khusus di Aula Koteka Moge.

Kemudian, setelah mendapat informasi adanya kericuhan di sekitar pasar, ia langsung bergerak menuju lokasi bersama Kapolsek Kamuu.

Baca juga: Lewat Seminar Parenting, GKI Imanuel Timika Dorong Pendidikan Iman Sejak Dini

Namun, aksinya dibatasi oleh oknum polisi yang bertugas di lapangan.
 
"Jadi setelah saya dapat informasi tindakan kekerasan di sekitar pasar, saya langsung ke TKP dari tempat kegiatan untuk mengetahui motifnya, tapi saya disuruh kembali oleh anggota di lokasi," ungkapnya melalui panggilan WhastApp, Minggu (5/4/2026), malam.

Meskipun lokasi kejadian berada di dalam wilayah kerja Distrik Kamuu, Markus sebagai kepala distrik tidak diperbolehkan turun langsung ke titik keributan.
 
“Saya tidak berjalan sendiri, sebenarnya saya bersama Kapolsek Kamuu, tetapi saya dibatasi pihak keamanan untuk mendatangi tempat kejadian perkara,” akunya. 
 
Setelah dihalangi, Markus memilih kembali ke kantor distrik untuk berkoordinasi dengan jajarannya soal situasi.

Baca juga: Kapolda Papua Tengah Janji Bakal Evaluasi Kapolres Dogiyai

Beberapa jam kemudian, Markus berniat kembali turun bersama seorang wartawan untuk negosiasi antara aparat dan kelompok pemuda yang memblokir jalan.
 
Namun, lagi-lagi di Jalan Masuk Susteran, rombongan Markus kembali dihadang.

Ia mengaku dirinya dan wartawan diperlakukan tidak menyenangkan.
 
“Saat saya bersama wartawan Aleks Waine dalam perjalanan menuju jalan masuk susteran, kami dihadang oleh sekelompok polisi dan bahkan diancam dengan kata-kata yang membuat kami trauma,”bebernya.
 
Setelah melalui proses komunikasi yang alot, akhirnya keduanya diizinkan melanjutkan perjalanan untuk bernegosiasi guna meredakan ketegangan.

Baca juga: Respons Aspirasi KDM, Kapolda Papua Tengah Janji Evaluasi Kapolres Dogiyai dan Transparansi Hukum

Sementara itu wartawan, Aleks Waine, membenarkan peristiwa penghadangan itu.

Aleks mengaku sebelum turun ke lapangan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pimpinan kepolisian melalui pesan singkat untuk memastikan keamanan.
 
“Sebelum turun, situasi memang sangat tegang. Saya dan Pak Kadistrik sudah berkoordinasi dengan Kapolsek Kamuu agar kami bisa turun langsung bernegosiasi dengan kelompok pemuda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Aleks.
 
Namun di lapangan, kata Aleks, ada oknum polisi yang mengeluarkan ucapan provokatif.

Oknum polisi yang di papan namanya bertuliskan "William" itu sempat mengancam.
 
“William itu mengancam 'akan meratakan habis warga Dogiyai'. Dia juga menyampaikan kalau orang Dogiyai ke depan tidak boleh melakukan demonstrasi,” tutur Aleks.
 
Selain itu, lanjut Aleks, anggota tersebut menuntut masyarakat untuk segera mengungkap identitas pelaku pembunuhan JE.

Baca juga: Lewat Seminar Parenting, GKI Imanuel Timika Dorong Pendidikan Iman Sejak Dini

Padahal, menurutnya, tugas penegakan hukum dan penyelidikan adalah wewenang kepolisian.
 
“Dia menyampaikan masyarakat harus ungkap pelaku yang bunuh JE. Tapi dalam hati saya berpikir, sebenarnya untuk mengungkap pelaku adalah tugas polisi, bukan kami,” kata Aleks dengan nada heran.

Secara terpisah Kapolsek Kamuu, Iptu Yusuf Habel Apiem, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait adanya pernyataan yang dinilai tidak pantas oleh oknum polisi pasca insiden Dogiyai.

Yusuf mengaku selama ini dirinya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para tokoh dan pemuda setempat, termasuk wartawan dan Kepala Distrik Kamuu.

“Justru saya minta tolong kepada mereka, adik Aleks dan bapak kepala distrik. Waktu kejadian itu sampai waktu saya antar jenazah itu saya bilang ade Waine dengan kepala distrik datang di depan saya,” ujarnya.

Baca juga: Sambut Kebangkitan Yesus Kristus, Ribuan Warga Mimika Pawai Obor Paskah

Yusuf mengaku justru kehadiran Aleks dan Kepala Distrik Kamuu telah banyak membantu.

“Kamu dua itu saya punya kekuatan untuk saya bergerak dalam kota ini (ibu kota Dogiyai),” lanjutnya mengulangi kalimat yang pernah ia sampaikan kepada Aleks dan Kepdis Kamuu.

Menurutnya, komunikasi dengan para tokoh dan pemuda selama ini berjalan baik.

Namun, Yusuf menyayangkan adanya sikap tidak sopan dari oknum anggota yang memicu keresahan.

“Tadi Maine sempat WA ke saya soal ini. Anak-anak ini (oknum polisi) kurang ajar tidak tahu sopan, tidak tahu etika,” katanya.

Yusuf menegaskanpernyataan tersebut bukan berasal dari anggota Polsek Kamuu, melainkan oknum anggota Polres.

“Saya sebagai Kapolsek Kamuu minta maaf. Saya sedikit pun tidak pernah berpikir buruk sama adik Aleks sama kakak kepala distrik juga pemuda-pemuda di sini (Dogiyai). Saya salut sama mereka karena selama ini mereka yang bantu saya sebagai kapolsek dalam kota,” tegasnya.

“Tapi saya sarankan, berkenan langsung Kapolres kah? Karena yang menyatakan kalimat itu anggota Kapolres. Itu bukan anggota saya (Polsek Kamuu)," imbuhnya.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Siaga Layani Kebutuhan Energi Libur Panjang Paskah di Papua dan Maluku 

Yusuf juga menilai perilaku oknum tersebut tidak mencerminkan sikap profesional aparat.

“Saya jujur, hal-hal yang tidak berkenan ini tidak boleh terjadi kepada kita punya masyarakat. Saya jujur bukan karena saya anak Papua, saya tahu persis adik-adik di sini, pemuda-pemuda di sini, saya sangat dekat dengan mereka (warga di sini) terutama para pemuda,” ujarnya.

“Perilaku-perilaku dari anggota ini tidak benar atau tidak profesional. Saya sebagai Kapolsek Kamuu mohon maaf,” sambungnya lagi. 

Yusuf memastikan akan melaporkan oknum tersebut ke pimpinan.

“Adik anggota yang mengatakan bahasa begitu, saya akan lapor ke Kapolres, kalau tidak nanti saya kasih tahu ke Polda untuk oknum dicabut dari Dogiyai,” janjinya.

Baca juga: Vigili Paskah 2026, Umat Dipanggil Untuk Menemui Yesus Kristus Sang Juru Selamat

Sementara itu, terkait situasi keamanan, ia menyebut kondisi Dogiyai hingga hari kelima pasca kejadian sudah mulai kondusif.

“Untuk situasi di Dogiyai pasca kejadian hingga kurang lebih hari ini (hari kelima) situasi aman kondusif,” katanya.

Selanjutnya pasca kejadian, Yusuf  telah menginstruksikan anggotanya untuk tidak menggunakan senjata api, terutama di lingkungan permukiman warga.

“Saya sudah perintahkan juga kepada saya punya anggota untuk tidak boleh lepaskan tembakan. Kita lakukan sesuai SOP, kalau ade-ade pemuda ini datang sampai ke pintu maka buang saja gas air mata biar adik dorang bubar dan mundur,” tutupnya. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved