Senin, 27 April 2026

Ramadhan 2025 di Papua Tengah

Merawat Kemabruran Puasa: Hidup Ini Adalah Seni

Pernyataan-pernyataan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa hidup ini memang perlu dimanaj dan perlu disiasati.

Tayang:
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Merawat Kemabruran Puasa: Hidup Ini Adalah Seni
Istimewa
HIKMAH RAMADHAN-Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA. Foto: Istimewa 

Adakalanya hidup ini perlu dijalani secara praktis-fragmatis tetapi ada juga dimensi di dalam hidup ini memerlukan visi, misi, dan filosofi.

Di dalam Islam niat menjadi amat penting di dalam menjalani kehidupan ini.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa, Dimulai dengan Niat Yang luhur

Manusia memiliki dua kapasitas, yaitu sebagai hamba dan khalifah. Hidup sebagai hamba membutuhkan pengabdian dan hidup sebagai khalifah membutuhkan tanggung jawab.

Sekali lagi, niat menjadi amat penting karena niat bukan sekedar terucapnya maksud dan tujuan di ujung lidah tetapi secara inplisit juga mengisyaratkan adanya program atau planning dan controlling. 

Hidup sistematis dan teratur tidak berarti memasang jerat-jerat dalam kehidupan yang menghalangi kemerdekaan dan kebebasan hidup.

Ala bisa karena biasa, kita perlu menunmbuhkan sikap dan karakter yang sekaligus modal dasar di dalam menjalani kehidupan ini.

Jika tatanan hidup sudah menjadi karakter maka akan terasa mudah menjalani kehidupan ini.

Meskipun orang lain mungkin prihatin dengan ketatnya pola kehidupan yang dipilih tetapi yang bersangkutan merasakan kenyamanan dengan pola itu. 

Bahkan ia akan merasakan hidup ini simpel dan ringan karena ideology hidupnya sudah menjadi karakter yang melekat di dalam dirinya. 

Bagi orang yang beriman, hidupnya akan terasa lebih mudah dan simpel, karena segalanya ia serahkan kepad Tuhan setelah ia melakukan usahanya secara professional.

Baca juga: Jadwal Buka Puasa Ramadan Mimika Rabu 12 Maret 2025

Kata iman itu sendiri seakar kata dengan aman (merasa aman), amanah (bertanggung jawab), mu’min (orang yang komitmen memelihara kepercayaan).

Orang yang beriman tidak akan merasa kecewa karena percaya akan adanya takdir.

Setelah ia berusaha sedemikian rupa tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan, ia ditenangkan oleh sebuah keyakinan bahwa manusi yang berusaha dan Tuhan Yang Maha Menentukan, sesuai dengan firman Allah:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.

 Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran/3:159). (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved