Buku Tragedi Dogiyai Berdarah
Buku Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026 Diluncurkan: Catatan Kritis Solidaritas Rakyat Papua
"Di dalam isinya itu sambutan-sambutan, masuk ke mengeksplorasikan Kabupaten Dogiyai sebelum Tahun 2024
Penulis: Melkianus Dogopia | Editor: Marselinus Labu Lela
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/peluncuran-buku-dogiyai-1.jpg)
Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Melky Dogopia
TRIBUNPAUATENGAH.COM, DOGIYAI- Sebuah catatan kritis Solidaritas Rakyat Papua (SRP) di Dogiyai tertuang dalam Buku Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026 resmi diluncurkan pada, Selasa (5/5/2026) pagi pukul 09.00 WIT.
Pantauan TribunPapuaTengah.com, bukan hanya peluncuran tapi juga diskusi tentang buku tersebut, berlangsung penuh antusiasme dan saling berinteraksi tanya-jawab guna mencari dan menyepakati pembentukan investigasi yang independen, transparan, dan akuntabilitas.
Karya ditulis oleh Siorus Ewainaibi Degei ini hadir sebagai dokumen literasi sejarah sekaligus gugatan atas rangkaian kekerasan sekaligus tamparan keras terhadap pengungkapan kasus dianggap jalan di tempat.
Baca juga: Bulog Nabire Pastikan Stok Beras Aman Untuk Penyaluran ke 5 Kabupaten di Papua Tengah
Peristiwa kelam itu bermula dari teka-teki kematian Bripda Juventus Edowai (JE) anggota Polres Dogiyai.
Kematian Bripda JE belum terpecahkan itu disusul tembakan kepada warga sipil di Dogiyai sebagai operasi balas dendam oleh aparat kepolisian.
Hasilnya fatal bahwa 8 warga sipil menjadi korban dalam rentetan kejadian sepanjang 31 Maret hingga 2 April 2026 tersebut.
Benediktus Goo, Ketua SRP Dogiyai Penanggungjawab Diskusi dan Peluncuran Buku dalam sambutannya mengatakan langkah ini juga sebagai menolak lupa di tengah kemajuan teknologi.
Ketua SRP Dogiyai juga menegaskan penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh keresahan mendalam atas berubahnya wajah Dogiyai.
Menurutnya, Dogiyai yang dahulu dikenal karena hasil perkebunan dan kearifan lokalnya, kini justru identik dengan konflik, kebakaran, dan pembunuhan pelakunya selalu berakhir misterius.
Dirinya merasa ironis karena di tengah zaman elektronik serba canggih aparat keamanan terkesan sulit mengungkap dalang di balik berbagai peristiwa berdarah tersebut.
Baca juga: Dinilai Sejalan Visi Pembangunan Daerah, Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Dukung Program YPMAK
“Dasar mengapa buku harus ditulis dan mengapa harus diluncurkan, karena Dogiyai hari ini dikenal karena konflik. Hari ini terjadi kebakaran, pencurian, dan pembunuhan di mana-mana tetapi semua pelakunya misterius dan tak satupun terungkap,” kata Goo.
Ia menambahkan buku ini diposisikan sebagai kajian dan riset awal bagi para penyelidik dan investigator di masa depan.
Pasalnya, hal ini agar peristiwa ini tidak menguap begitu saja.
Benediktus menekankan bahwa generasi muda Dogiyai berkomitmen untuk melawan lupa dengan mendokumentasikan setiap peristiwa secara tertulis.
Baca juga: Kebakaran Rumah di Kawasan Kemiri, Ibu dan Anak Alami Luka Bakar Akibat Tumpahan Bensin
Baginya, peluncuran buku ini bukanlah akhir, melainkan proses berkelanjutan untuk mendesak pengungkapan kasus, termasuk pembacokan anggota polisi Bripda Pesedau hingga penembakan warga sipil.
“Peluncuran buku kali ini bukan akhir dari sebuah perjuangan kejadian kemarin, tetapi ini adalah proses dan progres selanjutnya untuk kami masih selidiki sampai pelaku harus ungkap.
"Kami mendesak pihak berwenang mengungkap siapa pembunuh satu anggota polisi yakni Juventus Edowai dan memproses pelaku penembakan lima orang yang tewas di tempat,” jelasnya.
Baca juga: Bukan Sekadar Seremoni, WPFD 2026 Momentum Ciptakan Ekosistem Pers Independen dan Jaga Kedamaian
Pada kesempatan itu pesan Bupati Dogiyai, Yudas Tebai dibacakan Ketua Komisi A DPRD Dogiyai, Yohanes Degei menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas lahirnya karya literatur kritis ini.
Bupati mengakui membaca buku ini memunculkan kesedihan yang mendalam karena harus mengingat kembali luka lama, namun di sisi lain ia merasa bersyukur karena suara hati rakyat telah berhasil didokumentasikan.
Yudas menilai kehadiran buku ini sejalan dengan visi misi pemerintah dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis.
Baca juga: Amnesti Tahanan Politik Papua Jadi Prioritas Prabowo, Yan Mandenas: Data Mulai Dihimpun
“Melihat lahirnya buku ini, saya menyambut dengan hati yang lembut. Di satu sisi ada rasa sedih karena, kembali mengingat kesedihan yang mendalam, namun di sisi lain ada rasa syukur.
"Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan suara hati rakyat yang menjadi saksi bisu merekam apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Yohanes Degei.
Bupati Yudas menegaskan pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendorong proses hukum transparan dan bertanggung jawab.
Ia menekankan bahwa, pembangunan Dogiyai sebagai ‘Honai’ atau rumah besar bagi semua pihak tidak akan tercapai jika semua pihak menutup mata terhadap realitas pahit yang ada.
Baca juga: Menolak Lupa Tragedi Dogiyai, SRP Bedah Buku Dokumentasi Pelanggaran HAM dan Tuntutan Keadilan
Melalui sambutan tersebut, ditegaskan pula fokus pemerintah pada pemulihan trauma bagi keluarga korban serta penguatan dialog untuk mencegah kekerasan serupa terulang kembali.
“Darah yang tumpah tidak boleh menjadi benih permusuhan, melainkan harus menjadi pemicu semangat untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat. Kita harus hidup rukun dalam Honai besar ini, saling menghormati dan melindungi,” tandasnya.
Pada momen tersebut pula, Siorus Ewainaibi Degei, Penulis Buku, 'Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026', membedah bukunya setebal 400an halaman.
Siorus yang masih dalam pendidikan menjadi Imam, saat ini masih frater menambahkan isi buku ada tuju bab, 390 halaman dan 28 nomor romawi.
TribunPapuaTengah.com
Provinsi Papua Tengah
Tragedi Dogiyai Berdarah
Info Dogiyai
Dogiyai
Buku Tragedi Dogiyai Berdarah
| WPFD 2026 Digelar di Papua, Komite Publisher Rights Tekankan Keadilan Media Digital |
|
|---|
| Menolak Lupa Tragedi Dogiyai, SRP Bedah Buku Dokumentasi Pelanggaran HAM dan Tuntutan Keadilan |
|
|---|
| Amnesti Tahanan Politik Papua Jadi Prioritas Prabowo, Yan Mandenas: Data Mulai Dihimpun |
|
|---|
| Mengulik Liga 1: Kasta Tertinggi dalam Dunia Sepakbola Indonesia, Setiap Klub Rela Jor-joran |
|
|---|
| Tumbang 2:0 di Kandang Persipura, Persiku Kudus Gagal Curi Poin, Harapan Kasta Liga 1 pun Pupus |
|
|---|