Rabu, 22 April 2026

YPMAK

Perjalanan Karier Sekda Mimika, Penerima Beasiswa YPMAK: Karyawan PTFI Hingga Pejabat Pemerintahan

“Nah setelah saya turun dari PTFI, saya mengenali kehidupan dari nol. Semua yang saya dapat di Freeport itu hilang dan kita mulai

Tayang:
zoom-inlihat foto Perjalanan Karier Sekda Mimika, Penerima Beasiswa YPMAK: Karyawan PTFI Hingga Pejabat Pemerintahan
Tribunnews.com/Feronike Rumere
Nampak Pj Sekda Mimika Abraham Kateyau, di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Jumat (13/2/2026). Perjalanan Karier Sekda Mimika, Anak Putra Daerah Penerima Beasiswa YPMAK: Dari Karyawan PTFI Hingga Pejabat Pemerintahan. 

Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, MIMIKA– Perjalanan karier Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika menjadi bukti bahwa jalan pengabdian bisa datang dari arah yang tak terduga.

Putra asli Kamoro ini mengawali kariernya sebagai karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI), sebelum akhirnya memilih mengabdi di pemerintahan.

Baca juga: Hadiri Entry Meeting Pemeriksaan LKPD Tahun 2025 di Bali, Ini yang Disampaikan Wagub Papua Tengah

“Pada saat itu orang Freeport cari orang Kamoro putra daerah orang Kamoro atau Amungme mempunyai ijazah strata satu (S1). Kebetulan tahun itu saya sendiri,” ucap Abraham di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Jumat (13/2/2026).

Ia pun diterima sebagai staf di bagian Industrial Relationship (IR) PTFI.

Kesempatan tersebut dimanfaatkannya dengan baik. Namun tak lama berselang, kesempatan lain datang dari pemerintah daerah.

“Di pemerintahan juga buka penerimaan pegawai dan saya mencoba tidak pernah mengikuti tes, tapi nama saya keluar di SK bupati. Jadi ini semua jalan Tuhan. Saya bersyukur kepada Tuhan. Kalau tanpa Tuhan kami tidak bisa apa-apa,” ujarnya.

Ia mengaku masuk ke PTFI maupun pemerintahan tanpa melalui tes.

Saat dipanggil pemerintah untuk bergabung, ia memutuskan mengajukan pengunduran diri dari PTFI. Keputusan itu bukan tanpa tantangan.

Baca juga: PTFI Safety Goes To School di Universitas Timika, Sampaikan Pesan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Manajemen PTFI sempat menahannya selama dua minggu dan memberi waktu agar dirinya perlu memikirkan kembali keputusan tersebut dan menawarkan berbagai fasilitas agar ia tetap bertahan.

“Waktu saya ajukan diri untuk keluar, saya masih ditawar lagi dua minggu oleh manajemen Freeport untuk tidak keluar. Karena saat itu mereka susah mencari orang Kamoro untuk bekerja di PTFI. Bahkan saya ditawari tugas di New Orleans, Amerika, rumah dan segala fasilitas,” ungkapnya.

Baca juga: BMKG Mimika Prediksi 17 Wilayah di Kabupaten Mimika Akan Hujan Ringan

Namun, ia memilih jalur pengabdian kepada masyarakat. Ia mengaku hal lain yang menjadi pertimbangan untuk mengabdi di perusahaan tambang adalah dirinya jauh dari keluarga.

"Selama bekerja di PTFI, waktu bersama keluarga sangat terbatas karena harus mengikuti aturan perusahaan. Seperti istri harus melahirkan, anak sakit dan sebagainya harus melalui ijin dan ada berbagai aturan perusahaan yang perlu kita taati ," ucapnya.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, terutama sang istri, ia mantap mundur dari perusahaan tambang tersebut.

Baca juga: Kepala Suku Besar Ilaga Bantah TNI-Polri Picu Pengungsian Warga Distrk Kembru: Mereka Takut KKB!

“Nah setelah saya turun dari PTFI, saya mengenali kehidupan dari nol. Semua yang saya dapat di Freeport itu hilang dan kita mulai dengan gaji Rp 3 juta per bulan waktu itu. Dibanding di PTFI, baru dua minggu kerja saya sudah terima gaji kisaran Rp 8–12 juta,” kenangnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved