Senin, 18 Mei 2026

Info Papua Tengah

Video Viral Adu Argumen Kepala BKPSDM Papua Tengah Vs Massa Demo, Denci Nawipa Minta Maaf

Adu pendapat itu terjadi saat massa memprotes proses seleksi CPNS di depan Kantor BKPSDM Papua Tengah, Senin (15/9/2025).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Calvin Eluis Erari | Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Video Viral Adu Argumen Kepala BKPSDM Papua Tengah Vs Massa Demo, Denci Nawipa Minta Maaf
Foto Kepala BKPSDM Papua Tengah, Denci Meri Nawipa
MINTA MAAF- Kepala BKPSDM Papua Tengah, Denci Meri Nawipa meminta maaf usai video perdebatan dengan massa demo. Foto: Istimewa 

Laporan Wartawan Tribun-PapuaTengah.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, NABIRE- Video adu argumen Kepala BKPSDM Papua Tengah, Denci Meri Nawipa, dan massa aksi Kode R CPNS Formasi 2024 di Nabire viral di media sosial.

Rekaman tersebut menyebar luas di Facebook dan grup WhatsApp.

Adu pendapat itu terjadi saat massa memprotes proses seleksi CPNS di depan Kantor BKPSDM Papua Tengah, Senin (15/9/2025).

Dalam video berdurasi singkat itu, tampak suasana memanas antara Kepala BKPSDM dan pendemo.

Baca juga: BKPSDM Papua Tengah: Demo Kode R di Nabire Dinilai Tidak Murni, Ada Keterlibatan Pihak Luar!

Menanggapi viralnya video, Denci Nawipa menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

Ia mengakui bahwa suasana saat itu sempat tidak terkendali karena aksi massa yang dianggap memancing emosi.

"Saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung pihak tertentu," kata Denci dalam keterangan resmi yang diterima Tribun-PapuaTengah.com, di Nabire, Rabu (17/9/2025).

Denci menjelaskan bahwa sebagian besar pendemo berasal dari Kabupaten Paniai, sehingga sempat menyebut nama daerah tersebut dalam pernyataannya.

Baca juga: BKPSDM: Kelompok Kode R Wajib Tahu, CPNS Papua Tengah Formasi 2024 Telah Ditutup

Denci juga menduga ada muatan politik lokal dalam aksi itu.

"Karena mayoritas pendemo dari Paniai, saya melihat ada kepentingan politik yang dibawa ke sini," ujarnya.

Terkait pemalangan kantor dan pemasangan baliho tuntutan oleh massa, Denci mengaku terpaksa membongkar sendiri semua penghalang karena mengganggu pelayanan publik.

"Hari Senin mereka palang kantor, lalu Selasa saya buka sendiri menggunakan martil," kata Denci.

Menurut Denci, tuntutan massa tidak dapat dipenuhi karena tidak sesuai aturan dan tidak disertai dasar hukum yang jelas.

"Tuntutan mereka tidak bisa kami akomodasi karena alasannya tidak sesuai regulasi," tegasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved