Opini
Permasalahan Stunting dan Ketimpangan Pembangunan di Kabupaten Jayapura
Wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi kemungkinan memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan serta program intervensi gizi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/11-April-2026-opini-11-april-20266.jpg)
Ditulis Oleh : Nama : Joy Anna Natalia Kafiar
UTS Perempuan dan Pembangunan
TRIBUN-PAPUATENGAN.COM - Stunting merupakan suatu keadaan di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata untuk usianya karena kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Hal ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu selama kehamilan, atau pada anak saat
sedang dalam masa pertumbuhan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan, Papua menduduki peringkat ke 8 nasional, dengan presentase 28,6 persen anak penderita stunting.
Di Kabupaten Jayapura sendiri, pada tahun 2024, prevalensi stunting berada di angka 14,02 persen.
Sementara data Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura menunjukkan, pada tahun 2025, terjadi penurunan angka menjadi 13,25 persen anak yang menderita stunting.
Sedangkan hingga Januari 2026, tercatat sebanyak 688 anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis di 22 puskesmas yang terssebar di Kabupaten
Jayapura.
Data tersebut diperoleh melalui system Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
Berdasarkan pemetaan wilayah pembangunan (WP), sebaran kasus tertinggi berada di Wilayah Pembangunan I dengan 300 anak, disusul Wilayah Pembangunan III sebanyak 159 anak, Wilayah Pembangunan IV sebanyak 157 anak, dan Wilayah Pembangunan II sebanyak 72 anak.
Lantas mengapa masih terjadi kasus stunting meskipun prevalensi menunjukkan penurunan?
Penurunan persentase tidak selalu berarti jumlah kasus menurun.
Dalam kasus stunting yang terjadi di Kabupaten Jayapura, stunting masih terjadi karena dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah populasi anak, serta meningkatknya cakupan pendataan, sehingga
masalah stunting masih ada dan belum sepenuhnya terkendali.
Faktor lain penyebab masih maraknya kasus stunting di Kabupaten Jayapura ialah adanya ketimpangan pembangunan antar wilayah.
Pembangunan seharusnya tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, melainkan juga berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk aspek kesehatan dan gizi.
| Konflik Menyasar Tubuh Perempuan Papua |
|
|---|
| Dominasi Kekuasaan Laki-Laki dan Absennya Keterwakilan Perempuan di Lembaga Legislatif Yahukimo |
|
|---|
| Peran Mama Papua dalam Ekonomi Pasar Tradisional dan Tantangan Kebersihan Lingkungan Pasar Youtefa |
|
|---|
| OPINI: Agama Pendatang Baru Tidak Bisa Menghapus Hak Orang Asli Papua |
|
|---|
| Mari Bersama Kita Bangun Papua Pegunungan |
|
|---|