Rabu, 27 Mei 2026

YPMAK

Kisah Modestus Arpikini: Anak Kamoro dan Asa Merajut Mimpi hingga ke Negeri Sakura

“Saya pertama kali naik pesawat itu bingung dan sedih karena harus tinggal orangtua,” kenang taruna muda tersebut.

Tayang:
Penulis: Feronike Rumere | Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Kisah Modestus Arpikini: Anak Kamoro dan Asa Merajut Mimpi hingga ke Negeri Sakura
TribunPapuaTengah.com/Feronike Rumere
YPMAK - Modestus Arpikini, mahasiswa Program Studi Agribisnis Perikanan yang menempuh pendidikan melalui program beasiswa YPMAK. Foto: Tribun-PapuaTengah.com/Feronike Rumere. 
Ringkasan Berita:
  • Modestus Arpikini, anak asli suku Kamoro dari pesisir Mimika, berhasil mendobrak keterbatasan lewat jalur pendidikan formal. 
  • Berkat beasiswa YPMAK (dana kemitraan PT Freeport Indonesia), ia kini menempuh kuliah kedinasan di Politeknik Kelautan dan Perikanan. 
  • Taruna tingkat satu ini sukses menyabet Medali Emas Olimpiade PPKN Tingkat Nasional dan kini fokus belajar bahasa untuk lanjut studi ke Jepang.

 

Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, MIMIKA – Langkah kaki pemuda pesisir dari timur Indonesia itu kini berganti kepakan sayap burung besi yang membawanya melintasi samudra demi mengejar cita-cita besar melampaui batas di tanah kelahirannya.

Modestus Arpikini merupakan potret keteguhan anak asli suku Kamoro asal Kampung Akar, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Papua Tengah,  yang menolak menyerah pada keterbatasan akses pendidikan di wilayah pesisir.

Remaja kelahiran 17 Maret 2005 tersebut berhasil membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah takdir kehidupan yang semula tampak sederhana di pelosok Papua.

Baca juga: Rindu Terbayar Lewat Momen Pentakosta, Umat Jawa Katolik di Jayapura Rawat Tradisi dan Cinta

Langkah awal perjuangan sang pemuda dimulai saat dirinya harus rela meninggalkan kehangatan rumah demi menempuh pendidikan di SMP YPPK Le Cocq D’Armandville Kokonao.

Jarak geografi yang sangat jauh memaksa dirinya terbiasa mandiri dan menempa mentalitas bertahan hidup di dalam lingkungan asrama sekolah Katolik.

“Kami dapat fasilitas asrama dan makan tiga kali sehari. Karena di sana Katolik, kami juga ibadah bersama,” kenang Modestus saat zoom meeting bersama wartawan, di Kantor YPMAK, Jalan Yosudarso, Kabupaten Mimika, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Enam Pemkab di Papua Pegunungan Raih WTP, BPK Soroti Gaji Pensiunan yang Masih Dibayar

Perjalanan menuntut ilmu Modestus tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan fisik.

Saat melanjutkan studi di SMK Tunas Bangsa Pariwisata Timika, gangguan kesehatan yang parah sempat memaksa dirinya menunda aktivitas belajar akibat kondisi fisik yang terus menurun.

“Saya sempat sakit cukup lama waktu sekolah. Akhirnya saya pindah sekolah supaya bisa lanjut,” tuturnya mengenai fase sulit itu.

Demi memulihkan kondisi sekaligus menyelamatkan masa depan pendidikannya, Modestus mengambil keputusan besar untuk berpindah ke SMK St. Yohanis Don Bosco Timika.

Di sekolah tersebut ia memilih program keahlian Teknik Jaringan Komputer hingga berhasil menyelesaikan pendidikan menengah atas dengan baik.

Baca juga: Rampung dalam 9 Bulan,Meki Nawipa Resmikan Gedung Megah Bersejarah di Kabupaten Puncak

Setelah menggenggam ijazah kelulusan SMK, realitas ekonomi sempat menciutkan nyali sang pemuda untuk melanjutkan langkah ke jenjang perguruan tinggi.

Modestus bahkan sempat memadamkan impian kuliah demi memprioritaskan masa depan saudara-saudaranya dan berniat segera bekerja di kampung halaman.

“Saya pikir abang saya sudah kuliah di Jogja dan adik saya juga sekolah. Saya mau kembali ke kampung cari kerja bantu orangtua,” ungkap Modestus jujur mengenai pergolakan batinnya kala itu.

Namun takdir baik menjemput dedikasinya melalui perantara tangan suster pembina asrama melihat potensi besar di dalam diri sang pemuda. 

Baca juga: Matius Fakhiri Siap Bangun Rantai Pasok Ikan dan Pangan Kampung di Provinsi Papua

Nama Modestus kemudian diajukan kepada YPMAK selaku lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia yang fokus membuka akses pendidikan anak-anak suku Amungme dan Kamoro.

“Karena kehendak Tuhan akhirnya saya diterima kuliah,” ucapnya dengan nada penuh rasa syukur.

Penerimaan beasiswa tersebut sekaligus menjadi catatan sejarah baru dalam hidup Modestus yang belum pernah menginjakkan kaki keluar dari tanah Papua.

Rasa cemas dan haru bercampur menjadi satu ketika dirinya harus melangkah naik ke atas kabin pesawat terbang untuk pertama kalinya.

“Saya pertama kali naik pesawat itu bingung dan sedih karena harus tinggal orangtua,” kenang taruna muda tersebut.

Baca juga: Puluhan Hewan Kurban Gubernur Papua Tengah untuk Idul Adha 2026 Dipastikan Sehat

Kini Modestus telah berstatus sebagai taruna tingkat satu pada Program Studi Agribisnis Perikanan di Politeknik Kelautan dan Perikanan.

Di kampus kedinasan berasrama tersebut, ia langsung menggebrak lewat prestasi akademik yang sangat membanggakan di tingkat nasional.

Meski baru setahun mengecap atmosfer perkuliahan, pemuda pesisir Mimika ini sukses menyabet Medali Emas Juara 1 Olimpiade PPKN Tingkat Nasional.

Prestasi gemilang tersebut menjadi bukti sahih bahwa anak-anak asli Kamoro memiliki daya saing yang sejajar dengan mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara.

Tidak puas hanya sampai di tingkat nasional, Modestus kini tengah merajut mimpi baru yang jauh lebih tinggi dan menantang.

Baca juga: Niat Modifikasi Motor Curian, Dua Remaja Ini Dibekuk Tim Resmob Polres Nabire

Di sela-sela kesibukan asrama kedinasan, ia secara konsisten mengalokasikan waktu untuk mempelajari tata bahasa dan kebudayaan Jepang.

“Sekarang saya fokus belajar bahasa Jepang untuk lanjut ke Jepang,” tegas Modestus mengenai target masa depan.

Melalui pencapaian yang telah diraih, Modestus tidak pernah lupa mengekspresikan apresiasi mendalam kepada YPMAK yang telah mendanai seluruh biaya pendidikannya.

Baca juga: Paulus Waterpauw: Pendekatan Humanis-Dialog Jadi Kunci Utama Tuntaskan Kemiskinan Ekstrem di Papua

Ia berkomitmen penuh untuk mengembalikan kebaikan tersebut dalam bentuk dedikasi dan prestasi yang mengharumkan nama daerah.

“Saya berterima kasih kepada YPMAK yang telah membiayai kami di sini. Untuk teman-teman di Timika kita harus mampu dan meraih mimpi, jangan pernah takut,” seru Modestus menyemangati generasi muda Papua.

Bagi Modestus Arpikini, jalur pendidikan formal adalah kunci utama untuk merombak struktur masa depan dan memutus rantai keterbatasan.

Keberhasilan yang ia raih menjadi penanda penting bahwa mimpi anak-anak Kamoro tidak boleh berhenti di tepian pantai Mimika, melainkan harus terbang tinggi hingga ke negeri seberang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved