YPMAK
Kisah Modestus Arpikini: Anak Kamoro dan Asa Merajut Mimpi hingga ke Negeri Sakura
“Saya pertama kali naik pesawat itu bingung dan sedih karena harus tinggal orangtua,” kenang taruna muda tersebut.
Penulis: Feronike Rumere | Editor: Lidya Salmah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/26-Mei-2026-YPMAK-Jepang.jpg)
Ringkasan Berita:
- Modestus Arpikini, anak asli suku Kamoro dari pesisir Mimika, berhasil mendobrak keterbatasan lewat jalur pendidikan formal.
- Berkat beasiswa YPMAK (dana kemitraan PT Freeport Indonesia), ia kini menempuh kuliah kedinasan di Politeknik Kelautan dan Perikanan.
- Taruna tingkat satu ini sukses menyabet Medali Emas Olimpiade PPKN Tingkat Nasional dan kini fokus belajar bahasa untuk lanjut studi ke Jepang.
Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Feronike Rumere
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, MIMIKA – Langkah kaki pemuda pesisir dari timur Indonesia itu kini berganti kepakan sayap burung besi yang membawanya melintasi samudra demi mengejar cita-cita besar melampaui batas di tanah kelahirannya.
Modestus Arpikini merupakan potret keteguhan anak asli suku Kamoro asal Kampung Akar, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang menolak menyerah pada keterbatasan akses pendidikan di wilayah pesisir.
Remaja kelahiran 17 Maret 2005 tersebut berhasil membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah takdir kehidupan yang semula tampak sederhana di pelosok Papua.
Baca juga: Rindu Terbayar Lewat Momen Pentakosta, Umat Jawa Katolik di Jayapura Rawat Tradisi dan Cinta
Langkah awal perjuangan sang pemuda dimulai saat dirinya harus rela meninggalkan kehangatan rumah demi menempuh pendidikan di SMP YPPK Le Cocq D’Armandville Kokonao.
Jarak geografi yang sangat jauh memaksa dirinya terbiasa mandiri dan menempa mentalitas bertahan hidup di dalam lingkungan asrama sekolah Katolik.
“Kami dapat fasilitas asrama dan makan tiga kali sehari. Karena di sana Katolik, kami juga ibadah bersama,” kenang Modestus saat zoom meeting bersama wartawan, di Kantor YPMAK, Jalan Yosudarso, Kabupaten Mimika, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Enam Pemkab di Papua Pegunungan Raih WTP, BPK Soroti Gaji Pensiunan yang Masih Dibayar
Perjalanan menuntut ilmu Modestus tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan fisik.
Saat melanjutkan studi di SMK Tunas Bangsa Pariwisata Timika, gangguan kesehatan yang parah sempat memaksa dirinya menunda aktivitas belajar akibat kondisi fisik yang terus menurun.
“Saya sempat sakit cukup lama waktu sekolah. Akhirnya saya pindah sekolah supaya bisa lanjut,” tuturnya mengenai fase sulit itu.
Demi memulihkan kondisi sekaligus menyelamatkan masa depan pendidikannya, Modestus mengambil keputusan besar untuk berpindah ke SMK St. Yohanis Don Bosco Timika.
Di sekolah tersebut ia memilih program keahlian Teknik Jaringan Komputer hingga berhasil menyelesaikan pendidikan menengah atas dengan baik.
Baca juga: Rampung dalam 9 Bulan,Meki Nawipa Resmikan Gedung Megah Bersejarah di Kabupaten Puncak
Setelah menggenggam ijazah kelulusan SMK, realitas ekonomi sempat menciutkan nyali sang pemuda untuk melanjutkan langkah ke jenjang perguruan tinggi.
Modestus bahkan sempat memadamkan impian kuliah demi memprioritaskan masa depan saudara-saudaranya dan berniat segera bekerja di kampung halaman.
| Warga Potowaiburu Manfaatkan Bantuan Jaring Untuk Menambah Penghasilan |
|
|---|
| YPMAK Tinjau Program Kampung Sehat di Aikawapuka, Ini Hasilnya |
|
|---|
| Dinilai Sejalan Visi Pembangunan Daerah, Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Dukung Program YPMAK |
|
|---|
| Kepala Kampung Boiya Apresiasi Program Kampung YPMAK, Harap Perhatian Pendidikan dan Kesehatan |
|
|---|
| Program Kampung Sehat di Kampung Aindua Dinilai Sangat Membantu, Warga Diminta Manfaatkan Layanan |
|
|---|