Rabu, 20 Mei 2026

Festival Media Se Tanah Papua 2026

Albert Yomo Sebut Posisi Wartawan Harus Jadi Jembatan Rakyat

"Posisi wartawan, kalau masyarakat alami masalah, kita sebagai jembatan," tambahnya.

Tayang:
zoom-inlihat foto Albert Yomo Sebut Posisi Wartawan Harus Jadi Jembatan Rakyat
Tribunnews.com
Albert Yomo saat menjadi narasumber dalam workshop pada penutupan Festival Media Se-Tanah Papua perdana di Nabire, Papua Tengah, yang berlokasi di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah, Kamis (15/1/2026). 

Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Melky Dogopia

‎‎TRIBUNPAPUATENGAH.COM, NABIRE- Jurnalis Tabloid Jubi, Albert Yomo menekankan pentingnya posisi jurnalis sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama saat meliput isu lingkungan kerap merugikan warga.

Pernyataan ini disampaikan Yomo saat menjadi narasumber dalam workshop "Hutan Papua Bercerita: Teknik Menulis Jurnalisme Lingkungan Lokal" pada penutupan Festival Media Se-Tanah Papua perdana di Nabire, Papua Tengah, Kamis (15/1/2026).

Baca juga: Danrem 173/PVB Ajak Insan Pers di Nabire Kawal Pembangunan

Workshop dimoderatori oleh Yulika Anastasia, Head of Imaji, ini digelar di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah, Bandara Lama Nabire.

Selain Yomo, acara ini turut menghadirkan jurnalis Jubi lainnya, Dominggus Mampioper, untuk memberikan pemahaman praktis tentang teknik peliputan isu lingkungan berbasis pengalaman lapangan.

Dalam sesi tersebut, Yomo membagikan pengalamannya melakukan peliputan proyek bersama Pulitzer Center tentang perubahan iklim yang terjadi di Teluk Wondama.

"Kami banyak memberikan pengalaman tentang apa yang kami lakukan dalam menulis untuk proyek bersama Pulitzer Center. Jadi tentang liputan soal perubahan iklim di Wondama," ungkap Yomo.

Ia menjelaskan secara detail tahapan-tahapan harus disiapkan dalam liputan besar, mulai dari menyusun proposal, mengajukan liputan ke redaksi, hingga menawarkan ide ke pendonor.

"Teknik-teknik itu yang tadi kami jelaskan. Kita harus mulai dengan apa, sesudah disetujui apa yang harus kita lakukan. Kita buat perencanaan liputan: siapa yang diundang jadi narasumber, kemana kita pergi, isunya apa, sudut pandangnya seperti apa. Semua kita buat," paparnya.

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Dogiyai Gunakan Dana Otsus Latih Warga Beternak

Selain aspek teknis, Yomo menyoroti hal yang menurutnya menarik dari pertanyaan para peserta, yakni mengenai sikap jurnalis dalam meliput isu lingkungan.

Ia mengakui bahwa pembahasan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan topik utama workshop, namun ini merupakan cara pandang krusial dari peserta yang perlu dijawab.

Yomo menegaskan bahwa posisi jurnalis harus tetap berada pada garda terdepan masyarakat yang rentan.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Mimika Hari Ini: 13 Distrik Berawan, Lima Kecamatan Hujan Ringan

"Jurnalis itu tetap berada pada posisi rakyat. Kita selalu berharap proses kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah dilakukan dengan benar, kita akan senang. Tapi kalau tidak dilakukan dengan benar, pasti masyarakat akan jadi korban," tegasnya.

"Posisi wartawan, kalau masyarakat alami masalah, kita sebagai jembatan," tambahnya.

Festival Media Se-Tanah Papua ini diinisiasi oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP) dan digelar selama tiga hari (13-15 Januari 2026) di Nabire.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved