Selasa, 14 April 2026

Harga Daging Sapi Jelang Idul Fitri

Idul Fitri Tinggal 17 Hari Lagi: Harga Daging Sapi Nabire Tembus Rp160 Ribu/Kg, Ini Penyebabnya

Berdasarkan data Dinas Peternakan menunjukkan rata-rata pemotongan sapi di Nabire mencapai delapan ekor per hari.

Tayang:
Penulis: Calvin Eluis Erari | Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Idul Fitri Tinggal 17 Hari Lagi: Harga Daging Sapi Nabire Tembus Rp160 Ribu/Kg, Ini Penyebabnya
TribunPapuaTengah.com/Istimewa
HARGA DAGING SAPI - Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Dinas Peternakan Nabire, Fransisco Maker saat memberi keterangan soal naiknya harga daging sapi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Jumat, (6/2/2026). Foto Istimewa/Dok Pribadi 

Ringkasan Berita:
  • Harga daging sapi di pasar tradisional Nabire melonjak hingga Rp160.000 per kilogram akibat minimnya pasokan ternak lokal. 
  • Pemkab Nabire mengidentifikasi hambatan arus masuk ternak dari luar daerah sebagai pemicu utama kenaikan harga ini. 
  • Dinas Peternakan kini merekomendasikan opsi daging beku untuk menekan inflasi daerah dan menjaga daya beli masyarakat di Papua Tengah.

 

 

Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Calvin Louis Erari

TRIBUNPAPUATENGAH.COM, NABIRE - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah yang tinggal 17 hari lagi, harga daging sapi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sudah melambung tinggi.

Kenaikan harga yang terjadi secara mendadak ini sontak memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi daerah menjelang periode konsumsi tinggi di momen hari raya nanti.

Harga daging sapi di pasar tradisional Nabire saat ini telah menyentuh angka Rp160.000 per kilogram (kg).

Kondisi ini memaksa masyarakat untuk merogoh kocek lebih dalam guna memenuhi kebutuhan pangan harian mereka.

Baca juga: Tebar Kebaikan di Bulan Ramadhan, Wartawan Nabire Bagikan 200 Paket Takjil

Lonjakan harga tersebut dinilai sangat signifikan sehingga berpotensi memicu inflasi daerah yang tidak terkendali jika tidak segera ditangani.

Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Dinas Peternakan Kabupaten Nabire Francisco Maker mengatakan bahwa ketimpangan antara permintaan dan ketersediaan stok menjadi akar masalah. 

Selama beberapa tahun terakhir, arus masuk ternak sapi dari luar daerah terhenti total sebagai dampak dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia.

Baca juga: Jelang Momen Idul Fitri 2026, Telkomsel Luncurkan Aplikasi MyTelkomsel Basic

Proteksi terhadap wabah tersebut membuat populasi sapi lokal di Nabire menjadi sangat terbatas untuk memenuhi permintaan pasar.

"Secara teori ekonomi, ketika permintaan tetap tinggi namun pasokan seret, harga pasti melonjak. Saat ini, populasi sapi lokal kita sangat terbatas karena tidak ada pemasukan dari luar akibat proteksi terhadap wabah PMK," ujar Francisco di Nabire, Jumat (6/3/2026).

Berdasarkan data Dinas Peternakan menunjukkan rata-rata pemotongan sapi di Nabire mencapai delapan ekor per hari.

Pemkab Nabire mengkhawatirkan para peternak akan mulai menyembelih sapi betina produktif atau sapi muda untuk mengejar permintaan pasar.

"Kami khawatir itu berbahaya karena dapat mematikan keberlanjutan populasi ternak lokal dalam jangka panjang," beber Fransisco.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved