Info Kesehatan
IDI Papua Perkuat Sistem Code Blue untuk Penyelamatan Cepat Pasien Kritis
Setiap detik menjadi penentu hidup dan mati bagi pasien dalam kondisi kegawatdaruratan medis di rumah sakit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/12-April-2026-Seminar-kesehatan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ketua IDI Papua, dr Nickanor Wonatorey, menegaskan kecepatan respons melalui sistem Code Blue adalah kunci penyelamatan pasien kritis.
- Dalam seminar bersama PERDATIN di Jayapura, ia menyebut setiap detik sangat berharga dalam kondisi darurat.
- Tenaga medis diminta mengutamakan etika profesi dan koordinasi cepat guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta keselamatan pasien di Papua.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua, dr Nickanor Wonatorey, menegaskan bahwa kecepatan respons tim medis merupakan kunci utama menyelamatkan pasien kritis.
Alasannya, kata Nickanor, bahwa setiap detik menjadi penentu hidup dan mati bagi pasien dalam kondisi kegawatdaruratan medis di rumah sakit.
Penegasan tersebut disampaikan dalam seminar penerapan Early Warning System (EWS) dan aktivasi Code Blue di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: RS Dian Harapan dan Nutrifood Edukasi Warga Jayapura Cegah Komplikasi Diabetes
Seminar yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Papua ini, untuk memperkuat kesiagaan tenaga kesehatan.
"Jadi respons cepat menjadi kunci utama dalam menyelamatkan pasien kritis karena setiap detik sangat berharga," ujar Nickanor.
Ia menjelaskan bahwa sistem Code Blue dirancang khusus sebagai prosedur darurat medis yang mengancam nyawa.
Di mana, sambung Nickanor, dokter wajib menilai kebutuhan dasar secara cepat dan memberikan pertolongan segera sebelum melakukan rujukan.
Baca juga: Pemkab Sarmi Luncurkan CFD di Kawasan Mararena, Ruang Baru Olahraga dan Motor Penggerak Ekonomi
Menurutnya, keberhasilan penanganan sangat bergantung pada koordinasi tim dan komunikasi efektif dengan layanan ambulans.
"Tenaga juga medis harus mampu berkomunikasi dengan baik dan berkoordinasi antarfasilitas kesehatan," imbuh Nickanor.
Selain aspek teknis, Nickanor menekankan profesionalisme dan etika profesi sebagai landasan moral setiap tindakan medis.
Baca juga: Polda Papua Tengah Gerak Cepat Pulihkan Kemtibmas di Dogiyai, Ini Kata Brigjen Pol. Jermias Rontini
Keselamatan pasien tidak boleh dikompromikan oleh situasi apa pun karena dokter mengemban tanggung jawab kemanusiaan yang tinggi.
"Penanganan pasien darurat tidak boleh ditunda; harus cepat, tepat, dan mengutamakan keselamatan," tegasnya.
Melalui edukasi ini, IDI Papua berharap kualitas pelayanan kesehatan di Tanah Papua semakin meningkat.
Baca juga: Proyek Perpustakaan SMPN Jila Dipastikan Rampung 100 Persen, Rettob: Kontraktor Tetap Disanksi!
Tenaga medis juga dituntut lebih siap menghadapi situasi darurat secara terukur sesuai sumpah profesi.
"Semoga dengan peningkatan kapasitas ini menjadi langkah nyata dalam menjamin hak sehat masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan," tandas Nickanor. (*)