Info Papua
WASPADA- Isu Hoaks Menjadi Arah Pecah-belah dan Sesat Berfikir Masyarakat
“Kami percaya, ketika masyarakat diberi akses informasi yang benar, serta diedukasi dengan pendekatan manusiawi dan partisipatif
Penulis: Melkianus Dogopia | Editor: Marselinus Labu Lela
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/tanggapi-hoax.jpg)
TRIBUNPAPUATENGAH.COM, NABIRE- Jaga stabilitas sosial dan politik dari ancaman disinformasi.
Hal itu diserukan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadis Kominfo) Kabupaten Nabire, Yermias Degei guna mewaspadai hoaks, Senin (1/9/2025) pukul 09.00 WIT, di Kantor Diskominfo Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Baca juga: Demo di Jayapura, Massa Sampaikan 11 Tuntutan: Hentikan Operasi Militer dan Drop Pasukan ke Papua
Yermias kerap disapa Yeri mengajak seluruh elemen masyarakat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar tanggap-cermat dalam menghadapi derasnya arus informasi digital kini sering disebar kabar bohong (hoaks) dan disinformasi.
Ia mengajak semua pihak untuk bersatu dalam membangun ketahanan informasi sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sosial, politik, dan keamanan daerah, seiring meningkatnya intensitas penyebaran hoaks yang mengancam kohesi sosial masyarakat.
Ajakan ini disampaikan menyusul pernyataan tegas Bupati Nabire, Mesak Magai, dalam apel gabungan sebelumnya.
Di mana hoaks disebut sebagai salah satu faktor utama bisa memecah belah masyarakat dan melemahkan etika pelayanan publik.
*Masyarakat Terpapar Hoaks: Bahaya Nyata di Era Digital*
Dalam keterangannya, Yermias Degei menjelaskan bahwa di era teknologi informasi saat ini, kecepatan penyebaran beritabaik benar maupun palsu tidak bisa dibendung.
Sayangnya, hoaks memiliki daya sebar lebih cepat daripada informasi valid.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat kita kini berada dalam situasi oleh para ahli disebut sebagai infodemi.
Infodemi seperti kondisi banjir informasi membuat masyarakat sulit membedakan mana fakta dan mana manipulasi.
Baca juga: Pemkab Mimika Imbau Masyarakat Tidak Terpancing Isu Tak Benar
“Informasi kini menyebar dalam hitungan detik. Banyak yang tidak sadar bahwa informasi yang mereka bagikan belum tentu benar."
"Satu klik bisa membuat satu kabar bohong merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, memicu kepanikan, bahkan konflik,” jelas Yermias.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa jenis hoaks yang beredar sangat beragam mulai dari politik, agama, keamanan, pendidikan, hingga kesehatan.
Salah satu yang paling berbahaya adalah hoaks yang memicu ketegangan identitas dan sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Baca juga: Lelang Jabatan Pemkab Mimika Berakhir, Wabup Mimika: Silahkan Cek di Situs Resmi BKPSDM
| Tak Ada Larangan Gubernur Maju Ketua PSSI Papua, Begini Kata Relawan |
|
|---|
| Tetapkan Papua Status Darurat Kemanusiaan, KNPB Desak Akses Internasional dan Stop Operasi Militer |
|
|---|
| Rancangan Perda Wilayah Pertambangan Rakyat Papua Tengah, Ali Kabiay: Kami Tolak Pasal 26 Huruf F |
|
|---|
| Pelabuhan Samabusa dan Bandara Nabire Bakal Dikembangkan, Ini Alasannya |
|
|---|
| Batik Air Jadi Semangat Kebangkitan Ekonomi Papua Tengah |
|
|---|