Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Energi Hijau Papua: Jalan Tengah Konservasi dan Keadilan Sosial

Energi hijau, atau energi terbarukan, adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui seperti matahari, angin, dan air.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Energi Hijau Papua: Jalan Tengah Konservasi dan Keadilan Sosial
Istimewa
OPINI- Foto ilustrasi geografis Papua. Foto: Istimewa 

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM- PAPUA juga dikenal sebagai Tanah Papua, memiliki peluang besar yang sering kali luput dari perhatian pembangunan nasional di tengah krisis iklim global dan dorongan untuk transisi ke energi bersih.

Ini adalah pusat keanekaragaman hayati Indonesia dan memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Ironisnya, akses energi masih terbatas di sebagian besar wilayah Papua, terutama di wilayah pedalaman dan pegunungan.

Keadilan sosial, geografis, dan spasial adalah aspek penting dari ketimpangan energi ini.

Di pedalaman Papua, harga bahan bakar fosil seperti Pertalite dan Solar dapat mencapai beberapa kali lipat dibandingkan di daerah lain.

Namun, infrastruktur distribusi energi dibatasi oleh medan yang luas dan biaya logistik yang tinggi, sehingga banyak kampung di pedalaman belum memiliki sumber energi untuk listrik.

Energi hijau, atau energi terbarukan, adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui seperti matahari, angin, dan air.

Energi Baru Terbarukan atau energi hijau dapat menjadi solusi efektif untuk menghadirkan pembangunan yang adil dan berkelanjutan di Tanah Papua.

Walau demikian, menurut Laporan Kinerja Ditjen EBTKE Kementian ESDM Tahun 2024, hambatan dalam proses pengadaan pembangkit listrik tenaga EBT yang memerlukan waktu relatif lama mengakibatkan proses konstruksi terhambat serta berpotensi memperlambat realisasi investasinya.

Luas Papua sekitar 418.707,7 km⊃2; dengan topografi yang sangat bervariasi dari perairan dan pesisir, dataran rendah hingga ketinggian alpine di 4.884 m dpl ini merupakan peluang dalam pendekatan teknologi sumber energi sesuai dengan lanskapnya.

Dimana energi surya cocok dikembangkan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sementara mikrohidro sangat relevan di kawasan pegunungan tengah yang memiliki banyak sungai deras dan curam.

Sehingga kedua jenis energi ini tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga minim dampak kepada lingkungan hidup seperti polusi dari emisi yang dihasilkan, disamping itu teknologinya dapat ditransportasikan sampai ke daerah pedalaman Papua

Bila dilihat dari sudut pandang lingkungan hidup di Papua, dengan memanfaatkan sumber energi hijau akan mengurangi tekanan terhadap hutan akibat ketergantungan masyarakat pada kayu bakar (walaupun jumlahnya tidak besar) dan tentu saja kepada bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dan mencemari udara sekitar.

Penerapan sistem energi bersih ini  dapat diintegrasikan dengan pendekatan konservasi berbasis masyarakat, di mana warga menjadi penjaga ekosistem sekaligus penerima manfaatnya.  

Sebagai contoh, Proyek Mikrohidro dapat dihubungkan dengan perlindungan sumber air atau hulu sungai dan kawasan tangkapan air di wilayah yang dialiri.

Energi hijau juga memperkuat prinsip land-sparing, yang mencegah ekspansi lahan untuk pertambangan atau perkebunan energi yang dapat mengancam kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) atau High Conservation Value (HCV).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved