Selasa, 19 Mei 2026

Artikel

Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua

Masyarakat di pesisir Papua dan kelompok organisasi sipil (NGO) adalah petarung terdepan dalam menghadapi dampak ini.

Tayang:
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua
Istimewa
PERUBAHAN IKLIM- Foto ilustrasi. Foto: Istimewa 

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM- Perubahan iklim global bukan lagi ancaman yang jauh di depan mata, namun dampaknya mulai mendekati kita hari-hari ini.

Bagi negara-negara di kawasan Pasifik, dampaknya terasa semakin nyata dan menghantam komunitas paling rentan yang justru menyumbang sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim global.

Melalui artikel pendek ini kami ingin mengajak kita semua melihat lebih jauh bagaimana perubahan iklim kini menjadi “soal hidup dan mati” bagi banyak masyarakat pesisir di Pasifik dan seharusnya menjadi perhatian kita di Tanah Papua.

Baca juga: Patroli Gabungan di Tembagapura: Amankan Miras dan Senjata Tajam, Jaga Ketertiban Masyarakat

Negara Kepulauan Kecil di Pasifik: Garis Depan Krisis Iklim

Negara-negara kepulauan kecil di Pasifik, seperti Kiribati, Tuvalu, Kepulauan Marshall dan Kepulauan Solomon, berada di garis depan krisis iklim.

Mereka menghadapi kenaikan permukaan laut global diproyeksikan mencapai 0,29-1,1 meter pada akhir abad ini (IPCC, 2021).

Perubahan pola curah hujan di kawasan Pasifik ditandai dengan meningkatnya variabilitas dan intensitas curah hujan (Keener et al,. 2012).

Baca juga: WASPADA! Cuaca Tak Menentu Landa Seluruh Distrik di Nabire Hari Ini

Kemudian meningkatnya suhu air laut yang menyebabkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) secara masif di kawasan Pasifik dan mempengaruhi lebih dari 70 persen terumbu karang global (Hughes et al., 2018).

Naiknya frekuensi dan intensitas siklon tropis seperti Siklon Winston yang menghantam Fiji pada tahun 2016 dan Siklon Tropis Sarai di 2019 menyebabkan kerugian sebesar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar 31?ri PDB negara tersebut (Esler, 2016).  

Ironisnya, meski kontribusi mereka terhadap emisi global nyaris nol, negara-negara ini harus memikirkan relokasi massal penduduk sebagai dampak yang telah menjadi sebuah krisis kemanusiaan yang perlahan menjadi tak terhindarkan.

Baca juga: Anggota Satlantas Jayawijaya Korban KKB Dirujuk ke RS Polri Kramat Jati Jakarta

Komitmen Nasional Menghadapi Krisis Iklim

​Indonesia berkomitmen menghadapi perubahan iklim yang dinyatakan dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) yang disampaikan ke Sekretariat UNFCCC pada 23 September 2022.

Di mana kita menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk tahun 2030 ​ sebesar 31,89 % dibandingkan skenario business as usual (BAU) tanpa syarat, dan penurunan hingga 43,20 % jika mendapat dukungan internasional dalam bentuk pendanaan, transfer teknologi dan pengembangan kapasitas (www.menlhk.go.id).

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia mengandalkan berbagai strategi, termasuk:​ Pengelolaan hutan berkelanjutan dan restorasi ekosistem yang terdegradasi, peningkatan produktivitas pertanian  serta konservasi energi.​

Baca juga: Menguak Realita Papua: Dua Film Dokumenter Soroti Isu Perempuan dan Lingkungan di Wamena

Selain itu, Indonesia menetapkan target FOLU Net Sink 2030 mencapai emisi negatif sebesar 140 juta ton CO₂e di sektor kehutanan dan lahan pada tahun 2030. ​

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved