Artikel
Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua
Masyarakat di pesisir Papua dan kelompok organisasi sipil (NGO) adalah petarung terdepan dalam menghadapi dampak ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/2-Juni-2025-aetikel-footoo.jpg)
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM- Perubahan iklim global bukan lagi ancaman yang jauh di depan mata, namun dampaknya mulai mendekati kita hari-hari ini.
Bagi negara-negara di kawasan Pasifik, dampaknya terasa semakin nyata dan menghantam komunitas paling rentan yang justru menyumbang sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim global.
Melalui artikel pendek ini kami ingin mengajak kita semua melihat lebih jauh bagaimana perubahan iklim kini menjadi “soal hidup dan mati” bagi banyak masyarakat pesisir di Pasifik dan seharusnya menjadi perhatian kita di Tanah Papua.
Baca juga: Patroli Gabungan di Tembagapura: Amankan Miras dan Senjata Tajam, Jaga Ketertiban Masyarakat
Negara Kepulauan Kecil di Pasifik: Garis Depan Krisis Iklim
Negara-negara kepulauan kecil di Pasifik, seperti Kiribati, Tuvalu, Kepulauan Marshall dan Kepulauan Solomon, berada di garis depan krisis iklim.
Mereka menghadapi kenaikan permukaan laut global diproyeksikan mencapai 0,29-1,1 meter pada akhir abad ini (IPCC, 2021).
Perubahan pola curah hujan di kawasan Pasifik ditandai dengan meningkatnya variabilitas dan intensitas curah hujan (Keener et al,. 2012).
Baca juga: WASPADA! Cuaca Tak Menentu Landa Seluruh Distrik di Nabire Hari Ini
Kemudian meningkatnya suhu air laut yang menyebabkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) secara masif di kawasan Pasifik dan mempengaruhi lebih dari 70 persen terumbu karang global (Hughes et al., 2018).
Naiknya frekuensi dan intensitas siklon tropis seperti Siklon Winston yang menghantam Fiji pada tahun 2016 dan Siklon Tropis Sarai di 2019 menyebabkan kerugian sebesar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar 31?ri PDB negara tersebut (Esler, 2016).
Ironisnya, meski kontribusi mereka terhadap emisi global nyaris nol, negara-negara ini harus memikirkan relokasi massal penduduk sebagai dampak yang telah menjadi sebuah krisis kemanusiaan yang perlahan menjadi tak terhindarkan.
Baca juga: Anggota Satlantas Jayawijaya Korban KKB Dirujuk ke RS Polri Kramat Jati Jakarta
Komitmen Nasional Menghadapi Krisis Iklim
Indonesia berkomitmen menghadapi perubahan iklim yang dinyatakan dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) yang disampaikan ke Sekretariat UNFCCC pada 23 September 2022.
Di mana kita menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk tahun 2030 sebesar 31,89 % dibandingkan skenario business as usual (BAU) tanpa syarat, dan penurunan hingga 43,20 % jika mendapat dukungan internasional dalam bentuk pendanaan, transfer teknologi dan pengembangan kapasitas (www.menlhk.go.id).
Untuk mencapai target tersebut, Indonesia mengandalkan berbagai strategi, termasuk: Pengelolaan hutan berkelanjutan dan restorasi ekosistem yang terdegradasi, peningkatan produktivitas pertanian serta konservasi energi.
Baca juga: Menguak Realita Papua: Dua Film Dokumenter Soroti Isu Perempuan dan Lingkungan di Wamena
Selain itu, Indonesia menetapkan target FOLU Net Sink 2030 mencapai emisi negatif sebesar 140 juta ton CO₂e di sektor kehutanan dan lahan pada tahun 2030.
TribunPapuaTengah.com
artikel
Perubahan iklim global
kawasan Pasifik
emisi gas rumah kaca
Indonesia
Papua
Siklon Winston
Tanah Papua
FOLU Net Sink 2030
erosi pantai
| FAKTA 12 Januari: Dari Guncangan Gempa Haiti Hingga Lahirnya Pesawat Raksasa Boeing 747 |
|
|---|
| Berikut Kumpulan Ucapan Selamat Natal 2025: Pesan Damai dan Harapan untuk Orang Tercinta |
|
|---|
| Berikut Fakta Menarik dan Sejarah Tentang 1 November |
|
|---|
| Mengulik Sejarah dan Makna 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional |
|
|---|
| 15 Juli Peringati Hari Keterampilan Pemuda Sedunia: Dorong Penguasaan Keahlian Muda |
|
|---|