Selasa, 19 Mei 2026

Artikel

Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua

Masyarakat di pesisir Papua dan kelompok organisasi sipil (NGO) adalah petarung terdepan dalam menghadapi dampak ini.

Tayang:
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat foto Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua
Istimewa
PERUBAHAN IKLIM- Foto ilustrasi. Foto: Istimewa 

Namun, menurut penilaian Climate Action Tracker (CAT), target Enhanced NDC Indonesia masih dikategorikan sebagai critically insufficient untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris dalam membatasi pemanasan global hingga 1,5°C ​(www.iesr.or.id). 

Potret Ketahanan dan Kerentanan di Papua

Kemudian marilah kita melihat ke timur di Tanah Papua, wilayah paling timur Indonesia lalu berpikir bahwa Papua masih jauh dari bencana ini, maka kita keliru.

Masyarakat pesisir di Papua kini menghadapi realitas yang sama beratnya.

Erosi pantai dan intrusi air laut di Merauke contohnya, pemutihan terumbu karang (coral bleaching) di Raja Ampat misalnya, serta perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, serta banyak fenomena lainnya adalah manifestasi lokal dari krisis global ini.

Baca juga: Lanny Jaya Mencekam! 11 Ruko Ludes Dilalap Api, Ini Penjelasan Kapolres

Demikian pula kekayaan budaya di Papua turut menghadapi ancaman perubahan iklim ini.

Kita tahu kalau Papua adalah rumah bagi lebih dari 200 lebih suku yang diantaranya hidup di pesisir secara turun-temurun berdampingan dengan laut. 

Mereka memiliki kearifan lokal yang luar biasa, seperti “praktik sasi” untuk menjaga sumber daya laut tetap lestari. Namun, perubahan iklim menggerus dasar-dasar ekologis dan budaya ini dan menciptakan ancaman terhadap ketahanan pangan, kesehatan, bahkan identitas kultural masyarakat adat.

Baca juga: Kabar Duka dari Tanah Suci: Jemaah Haji Biak Numfor Wafat di Mekkah

Solusi ke Depan: Adaptasi Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal

Melihat kenyataan ini, solusi adaptasi tidak bisa hanya bersifat teknokratis.

Pendekatan berbasis ekosistem, seperti upaya rehabilitasi mangrove di Teluk Bintuni, serta konservasi ekosistem terumbu karang di Raja Ampat, terbukti efektif memperkuat pertahanan alami. 

Demikian pula, integrasi antara sains modern dan pengetahuan tradisional menjadi kunci inovasi adaptasi lokal sebagaimana ditunjukkan dalam kolaborasi masyarakat di pesisir dan perguruan tinggi seperti Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih melalui riset dan kerjasama pengabdian pada masyarakat.

Baca juga: Mengukir Pilar Bangsa: Berikut Sejarah Hari Lahirnya Pancasila

Semua upaya ini membutuhkan kerjasama dan dukungan nyata dari pemerintah pusat dan daerah.

Rencana pembangunan di wilayah pesisir Papua harus mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim ke dalam setiap kebijakan tata ruang dan program pembangunan daerah di Papua.

Tanpa langkah serius, risiko kehilangan ekosistem, budaya, dan masa depan masyarakat pesisir akan semakin besar.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved