Rabu, 20 Mei 2026

YPMAK

Perkuat Sains dan Jiwa Wirausaha, SATP Mimika Libatkan Siswa Kembangkan Hidroponik

"Kalau bibit di Timika ada, yang kendala itu adalah plastik UV karena sering habis di Timika.

Tayang:
zoom-inlihat foto Perkuat Sains dan Jiwa Wirausaha, SATP Mimika Libatkan Siswa Kembangkan Hidroponik
Tribunnews.com/Feronike Rumere
Kepala SATP Mimika Sonianto Kuddi didampingi Wakasek Wakasek Kurikulum SMP SATP, Elpianus Paat di Sekolah Asrama Taruna Papua, Jalan Sopoyono SP 4 Mimika, Papua Tengah, Selasa (3/2/2026). 

Namun, kerja sama tetap berjalan, di mana seluruh hasil panen dijual kembali kepada pihak mitra, PT Namo Jaya Timika milik Okto Magai.

Baca juga: Wisuda STTYM, Pemprov Papua Tengah Tegaskan Komitmen Investasi SDM Melalui Pendidikan Geratis

"Dia kemudian datang dan kita berdiskusi, dia bangun semua ini dan juga karyawan dia datangkan untuk melatih kita di sini dan anak-anak. Baru kemudian 1-2 bulan setelahnya  dilepas, tetapi kerjasamanya tetap jalan, hasilnya jual ke dia," ujar Elpianus Paat saat diwawancarai, Selasa (03/02/2026). 

Ia menjelaskan lahan seluas 40 x 25 meter ini mampu menghasilkan 100 kg sayur sekali panen.

Di dalamnya terdapat 20 meja tanam hidroponik. Satu meja memiliki 100 lubang, setiap lubang mengasilkan 1 Kg sayur.  

Baca juga: Kerap Tebar Teror dan Pembakaran: Kepala Suku Ilaga Ultimatum Kelompok Luar yang Masuk ke Puncak

Elpianus Paat menyebut, untuk keperluan proyek ini masih bisa didapatkan di Timika mulai dari bibit dan pupuk  AB mix khusus untuk tanaman hidroponik. 

"Kalau bibit di Timika ada, yang kendala itu adalah plastik UV karena sering habis di Timika. Kita harus kerjasama dengan yayasan dan kemudian mereka minta tolong di Yayasan Pusat di Jakarta. Tetapi tidak serta-merta yayasan yang beli. Kita yang bayar karena sudah ada dana hasilnya," terang Elpianus Paat. 

Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di area sekolah, seperti terong dan tanaman lainnya, sebagai bahan perbandingan metode tanam.

Baca juga: Sidak Pasar Sinakma: Disnakerindag Jayawijaya Sita Barang Kedaluwarsa dan Ancam Cabut Izin Pedagang

Sementara itu Kepala SATP, Sonianto Kuddi mengatakan, pihaknya menyambut baik program ini karena selaras dengan pembelajaran sains.

Anak-anak dilibatkan secara langsung dalam proses ilmiah, mulai dari menanam, mengukur pertumbuhan tanaman, mengolah data, membuat grafik, hingga menarik kesimpulan dari hasil pengamatan.

Dari proses ini, rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis siswa berkembang dengan kuat.

"Itu mereka bisa mengolah data lalu dibuat dalam bentuk grafik. Dari grafik itu mereka bisa buat satu kesimpulan. Ternyata kita ada mengalami kerugian di sini, atau tanamannya kurang tumbuh.

Baca juga: Dibuka Uskup Bernardus, Muspasmee ke-VIII Mengajak Umat Katolik Mee Jaga Damai dan Alam

"Kenapa? Disitulah rasa ingin tahu ingin menanyakan lebih lagi itu muncul dari anak-anak. Jadi ada proses sains yang sangat kuat dalam program ini," terangnya. 

Ia berharap, siswa dapat menerapkan pengetahuan ini di rumah masing-masing nantinya setelah lulus.

Dengan lahan yang luas dan bekal keterampilan hidroponik, mereka diharapkan mampu memenuhi sendiri kebutuhan sayur keluarga, bahkan mengembangkannya menjadi usaha yang bernilai ekonomi.

"Minimal mereka memiliki modal ataupun pengetahuan penanaman hidroponik. Di rumah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dulu, baru kalau memang sudah oke, bisa dijual ke orang lain. Ini dikerjakan anak-anak setiap sore karena setiap hari harus dirawat," pungkasnya.(*) 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved